Pages

November 30, 2011

Catatan Rhenald Kasali : 'The Hot and The Cute'

Me read this --> Jawa Pos, 28 November 2011 & instantly deeply in ♥!! I have to share this, I HAVE TO.. Enjoy pals :
 Banyak lelaki berpikir harus ganteng dulu supaya bisa dapat pacar. Tetapi, saya justru banyak menemukan lelaki keren mentereng yang sulit mendapatkan pasangan. Kejadian seperti itu sama seperti dengan yang dialami anak-anak muda, yang baru merintis usaha habis-habisan fokus pada produk kebanggaanya. 
Seorang remaja, misalnya, komplain kepada adik-adiknya yang seluruhnya perempuan. Sebagai satu-satunya anak lelaki, ia merasa ada yang kurang beres. Ia lalu bertanya kepada adiknya, "Apakah saya kurang keren?" Adiknya berkata dengan bahasa gaul, "Kakak cute kok!" Cute berarti keren, tidak jelek, si adik menyimpulkannya setelah bergunjingan dengan 'geng'-nya di sekolah, tetapi mengapa kakak 'cute' tidak dapat cewek?
H.O.T = Action
Mudah saja dijawab, ternyata cewek-cewek itu tidak mencari yang cute, melainkan yang hot. Cowok-cowok yang keren sering tidak hot, manja, menunggu dilamar, tinggi hati, dan hanya sibuk berdandan. Sekarang Anda jadi mengerti bukan, mengapa banyak perempuan cantik yang tidak jatuh ke pelukan laki-laki cute? Bahkan, Anda sering menghujat, : "Lha kok cowoknya parah banget? Nggak selevel?" Masalahnya, merekalah yang berani mendatangi, bolak-balik tak kenal lelah. 
Itulah reality show. Sekali lagi bukan yang cute, melainkan yang hot-lah yang dicari. Ini sama persis dalam dinamika bisnis di era cracking zone. Pasar bukan mengejar produk yang cute, melainkan yang hot. Barang-barang yang cute tidak beredar, sedangkan yang hot, meski kurang-kurang sedikit, bahkan maaf, kadang juga yang kurang bagus, melenggang lancar di pasar karena ia digerakkan, pemiliknya aktif mendatangi pasar. 
Saat menulis kolom ini, saya pun sedang berada di Banda Aceh, menghadiri Festival Kopi Aceh tak jauh dari Masjid Raya kesohor itu. Di antara tenda-tenda peserta, saya mendatangi UMKM binaan Rumah Perubahan secara on the spot. Dengan jelas kami bisa membedakan mana saja UMKM yang akan maju dan mana yang akan diam di tempat: Mereka yang diam itulah yang tendanya bagus dan asyik sendiri. Sedangkan yang hot aktif mendatangi. Ini sama persis dengan UMKM yang dibawa pemda-pemda ikut pameran ke luar negeri. 
UMKM yang hot sudah siap dengan aneka brosur dan kartu nama, sedangkan yang cute sibuk menyiapkan display produk dan stan. Kita tahulah bagaimana kerja birokrasi yang masih banyak digerakkan prinsip "sekedar menghabiskan anggaran". Dengan prinsip itu, pemerintah sudah pasti tidak mendapatkan lokasi pameran yang 'hot'. Jadi, letaknya tidak pada posisi yang strategis, menyempil di dalam kotak-kotak yang tersudut. Pada posisi seperti ini, Kementrian Perdagangan lebih senang menghabiskan uang untuk membuat desain stan yang 'cute', ditambah sejumlah kegiatan public relations yang ditopang wartawan dari dalam negeri. 
Wartawan yang tidak kritis 'tertipu' habis karena hanya menyajikan berita betapa 'cute'-nya stan pameran Indonesia. Seakan-akan yang cute itulah yang sukses. Statistik yang diberikan pemerintah juga amat impresif. Tapi, tanyakanlah kepada pelaku-pelaku UMKM yang 'cute' tadi, apakah betul mereka mendapatkan order? 
Beberapa tahun yang lalu ada anak muda yang ikut pameran pariwisata yang amat terkenal di Berlin. Sewaktu mengunjungi, saya tertegun karena ia tak berada di dalam area stan pemerintah Indonesia. Ia berkeliling sambil membawa sebuah hand luggage beroda dan bersama temannya membagi-bagikan brosur kepada para pengunjung yang keluar dari area stan pemerintah Malaysia, Turki, Thailand, atau Israel. 
Maklum, itulah empat negara yang gencar berpromosi dan paling banyak dikunjungi calon-calon 'buyer' dan travel agents. 
Sementara pelaku-pelaku pariwisata Indonesia mengeluh kepada pemerintah karena pamerannya gagal, anak muda itu justru mendapatkan 'pacar', yaitu order dari mancanegara. Jadi, cracking zone ini memang penuh jebakan Batman, kita mengira segala sesuatu yang cute akan digemari, nyatanya tidak demikian. Sama juga dengan wirausahawan-wirausahawan muda yang hanya sibuk dengan pengembangan tok. Produk yang cute tak akan otomatis bergulir. Malaysia saja yang alamnya tak se-'cute' Indonesia bisa mendapatkan turis lebih banyak. Tentu bukan karena prinsip 'the cute'. In real life, the hot is the darling!

No comments:

Post a Comment